Sekolah

Mulai sekarang sampai beberapa minggu kedepan di seluruh Indonesia dipastikan akan terjadi lonjakan perputaran uang yang sangat drastis. Melejitnya peredaran uang itu bukan terjadi karena fluktuasi perdagangan yang memuncak, tetapi karena seluruh orangtua di seruh negeri ini sedang sibuk-sibuknya memasukkan uang mereka ke brangkas sekolah sebagai biaya pendidikan.

Seluruh orangtua yang menyekolahkan anak-anaknya pasti dengan berbagai cara akan mencari uang agar anak-anak mereka bisa sekolah. Tren peredaran uang menjelang pendaftaran sekolah ini setiap tahun. Nilainya tidak pernah berkurang , selalu naik bahkan kenaikannya boleh di bilang sangat drastis. Sangat drastis hingga jauh melebihi digit inflasi.

Puluhan tahun lalu, salah satu motifasi orang tua menyekolahkan anaknya di negeri karena pertimbangan biaya yang murah, dan kenyataannya begitu, sekarang? Jangan bilang sekolah negeri murah. Beberapa sekolah negeri biasanya yang memasukan program pemasukan murid jalur khusus dan tidak mau kalahmahal dengan sekolah swasta. Ongkos belajar di sekolah negeri dan swasta sama, bahkan banyak sekolah swasta yang lebih murah. Ya, seperti sekolah negeri kini mulai ‘menswastakan’ diri.

Bagi sekolah swasta, masih terassa wajar jika ‘menarik’ biaya pendidikan sedikit lebih mahal. Karena, memang satu-satunya sumber dana agar kegiatan belajar terselenggara berasal dari tarikan orangtua murid. Beberapa sekolah swasta tidak jarang menghemat biaya disana sini agar tidak menarik biaya terlalu mahal. Karenanya, seperti menjadi aneh ketika sekolah negeri yang notabene adalah milik pemerintah menarik biaya mahal sama mahalnya dengan sekolah swasta.

Fenomena ini serasa menyirat sebuah kondisi bahwa sekolah hanya untuk mereka yang pinter dan punya uang. Yang punya uang tentu bisa sekolah karena bisa membayar. Entah itupemerintah atau pribadi. Lalu bagaimana yang tidak pinter dan tidak mampu secara ekonomi? Apakah mereka dibiarkan menjadi ‘sampah’ yang dibengkaliakan? Bukankah mereka punya hak untuk mengenyam pendidikan. Jangan sampai pendidikan menjadi sesuatu yang elisti, mahal dan hanya bisa terjangkau oleh sebagian kalangan.

Lembaga bisnis yang mendahulukan pendapatan, bukan tugas mendidik dan memintarkan anak bangsa. Padahal, filosofi sekolah sebenarnya adalah : mengajar, membidik dan mengabdi. Jangan sampai lembaga sekolah, terutama sekolah negeri, mengedepankan filosofi untung dan rugi dalam menjalankan manajemen sekolah . tetapi, yang lebih benar adalah, sudah saatnya pendidikan terutama biaya sekolah menjadi tanggung jawab penuh pemerintah. Semoga.

 

 

Links


Mahasiswa

Dosen/Staff

Hubungi Kami

IKIP BUDI UTOMO Malang
Telp: [0341] 323214 - 326019
Fax: 335070
Email: info@budiutomo.ac.id